Recent Articles
Senin, 18 Agustus 2014
Senin, 18 Agustus 2014
- 0 Comments
“Thalabul ilmi faridhatun ‘ala kulli muslimin wa muslimatin”.
“Uthlubul ‘ilma minal mahdi ilal lahdi”.
Dua hadis ini rasanya tidak asing lagi di telinga orang pesantren sebagai penuntut ilmu (thalibul ‘ilmi). Sejak madrasah ibtidaiyah (MI) dulu ustadz/ustadzah sudah mengenalkan dua hadits tersebut. Kalau masa sekarang (mungkin) sejak masa taman kanak-kanak (TK) sudah dikenalkan.
Namun, bagaimana cara kita untuk bisa mencapai derajat yang tinggi dalam mencari ilmu? Dalam hal ini, Ibnu Malik Al-Andalusi dalam kitab Alfiyah-nya mesdiskripsikan cara itu. Ada lima syarat yang bisa mengantarkan seseorang (thalibul ‘ilmi) pada derajat yang tinggi. Lima point tersebut yang nantinya akan membedakan antara thalibul ‘ilmi yang taat dan tidak. Hal itu beliau torehkan dalam bait syair Alfiyah-nya yang berbunyi:
“Bil jarri wat tanwini wan nida wa al # wa musnadin lil ismi tamyizun hashal”
Artinya, seorang thalibul ‘ilmi harus mempunyai dan bersifat, pertama, jar. Dalam artian tunduk dan tawadduk terhadap semua perintah (baik dari Allah SWT maupun pemerintah). Sesuai dengan apa yang difirmankan Allah swt. yang berbunyi, “athi’ullaha wa athi’ur rasul wa ulil amri minkum”.
Kedua, tanwin. Artinya kemampuan (baca: niat) yang tinggi mencari ridha Allah SWT. Dengan adanya kemauan yang tinggi seorang thalibul ‘ilmi akan mencapai apa yang ia inginkan. Sesuai dengan apa yang di sabdakan nabi Muhammad saw. yang datangnya dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh, Umar bin Khattab r.a. bahwa nabi Muhammad saw. pernah bersabda yang bunyinya, “innamal a’malu binniyati, wa innama likullimriin ma nawa… (al-Hadits)”.
Ketiga, nida’. Artinya dzikir. Setelah adanya niat yang baik untuk mencapai tempat yang layak di sisi Allah swt., seorang thalibul ‘ilmi diharapkan berdzikir mengingat-Nya. Dengan ini, niat awal tidak akan menjadi ‘ashi (bis safar/fis safar).
Keempat, al, yang berarti berfikir. Karena berfikir manusia mempunyai derajat yang lebih tinggi dari makhluk Allah lainnya. Maka dari itu, setidaknya seseorang yang ingin menggapai sesuatu seyogyanya menggunakan akal pikirannya sebaik mungkin, dengan tidak menggunakannya pada jalan yang salah, tidak berpikiran licik. Tidak seperti apa yang jamak dilakukan para aktivis yang kadang menggunakan akal pikirannya untuk mengkorup uang bawahannya, instansi, dan sejenisnya.
Kelima, musnad ilaih. Beramal nyata (ikhlas). Cara yang kelima ini merupakan puncak dari semuanya. Dengan ikhlas semuanya akan gampang. Sekedar gambaran, dalam film “Kiamat Sudah Dekat”, dengan ikhlas Fandi (Andre) bisa mendapatkan Sarah (Zazkia Adya Mecca) dari Pak Haji (Deddy Mizwar), ayah Sarah.
Sejatinya lima konsep di atas tidak hanya untuk thalibul ‘ilmi semata, akan tetapi lima konsep tersebut juga untuk merka yang ingin menjadi lebih baik dan lebih maju, termasuk para pemimpin kita yang berada dalam angka krisis.
- Penggunaan Lafaz KAM dalam Bahasa Arab » Alfiyah Bait 746-747
- Bilangan/Hitungan dalam Bahasa Arab (‘Adad dan Ma’dud/Tamyiz-nya, Mudzakkar dan Mu’annats-nya, Mufrad dan Jamak-nya) » Alfiyah Bait 726-723-724
- Latihan membuat Khobar dengan Alladzi sebagai Mubtada’nya » Alfiyah Bait 817-818-819
- AMMAA Huruf Syarat, Taukid, Tafsil, bukan Amil Jazm » Alfiyah Bait 712-713
- Definisi LAW Huruf Syarat » Alfiyah Bait 709
- Fi’il Mudhari’ Majzum oleh Amil Jawazim: LAA Nahi, LAM Amar, Huruf Syarat (IN, IDZMA), Isim Syarat (MAN, MA, MAHMA, AYYUN, MATA, AYYANA, AINA, HAITSUMA, ANNAA) لا لام إن من ما مهما أي متى أيان أين إذما حيثما أنى » Alfiyah Bait 696-697
- Fi’il Mudhari’ Manshub sebab Amil Nawashib LAN, KAY, AN (لن كي أن) » Alfiyah bait 677-678
- Pengertian Isim Ghair Munsharif, Mutamakkin Ghair Amkan » Alfiyah bait 649
- I’rab Fi’il Mudhari’ Rofa’ karena kosong dari Amil Nashob dan Amil Jazm » Alfiyah Bait 676
- Pengertian Dua Nun Taukid dan Penggunaan-nya » Alfiyah Bait 635-636-637-638
- Pengertian Isim Fi’il Amar, Isim Fi’il Madhi, Isim Fi’il Mudhari’ » Alfiyah Bait 627-628
- Pengertian Tahdzir » Alfiyah bait 622-623-624
- Pengertian Ikhtishash dalam Kaidah Nahwu » Alfiyah Bait 620-621
- Pengertian Munada Tarkhim dlm Ilmu Nahwu » Alfiyah Bait 608-609-610-611
- Pengertian Nubdah dan hukum Munada Mandub » Alfiyah Bait 601-602
- Pengertian Istighatsah, Yaa dan Lam Istighotsah, Mustaghats Bih dan Mustaghots Lah » Alfiyah Bait 598-599
- Bentuk Isim khusus Munada » Alfiyah Bait 595-596-597
- Munada Mudhaf pada Ya’ Mutakallim » Alfiyah Bait 582
- Tabi’ Munada Mabni Dhammah » Alfiyah Bait 585-586-587
- Pengertian Nida’, Munada dan Mandub » Alfiyah Bait 573-574
- Definisi Badal : Tabi’ maksud hukum tanpa perantara » Alfiyah Bait 565
- Definisi Athaf Nasaq » Alfiyah Bait 540-541-542
- Definisi Athaf Bayan, Idhah, Takhshish, Jamid tanpa Takwil » Alfiyah Bait 534-535
- Pengertian Taukid Ma’nawi dan syarat-syaratnya » Alfiyah Bait 520-521-522-523
- Pengertian Tabi’ Na’at Man’ut dan Faidahnya » Alfiyah Bait 506-507
- Pengertian Isim Tafdhil dan Syarat-syaratnya » Alfiyah Bait 496-497
- NI’MA dan BI’SA pengertian dan bentuk Fa’ilnya » Alfiyah Bait 485-486-487
- Pengertian Ta’ajjub dan tanda i’rabnya » Alfiyah Bait 474-475
- Pengertian Sifat Musyabbahah, Sifat yang diserupakan Isim Fa’il » Alfiyah Bait 467
- Isim Fa’il, Isim Maf’ul dan Sifat Musyabbahah » Alfiyah Bait 457-462
- Bentuk Wazan Mashdar » Alfiyah Bait 440-447
- Pengamalan Isim Fa’il dan Pengertian Isim Fa’il » Alfiyah Bait 428-429-430
- Pengamalan Mashdar dan Isim Mashdar » Alfiyyah Bait 424-425
- Hukum-hukum Mudhaf pada Ya’ Mutakallim » Alfiyah Bait 420-421-422-423
- Pengertian Idhafah (Idhofah = Sununan Mudhaf dan Mudhof Ilaih) » Alfiyah Bait 385-386-387
- Huruf Jar dalam Bahasa Arab (من إلى حتى خلا حاشا عدا في عن على مذ منذ رب ل كي و ت ك ب لعل متى) » Alfiyah Bait 364-365
- Pengertian Tamyiz » Alfiyah Bait 356-357
- Pengertian Hal » Alfiyah Bait 332
- Pengertian Istitsna’ Mustatsna » Alfiyah Bait 316-317
- Pengertian Zhorof Maf’ul Fih » Alfiyah Bait 303
- Pengertian Maf’ul Lah/Maf’ul Li Ajlih » Alfiyah Bait 298-299-300
- Pengertian Maf’ul Muthlaq dan Mashdar » Alfiyah Bait 286-287
- Pengertian Tanazu’ dan Syarat-syaratnya » Alfiyah Bait 278-279
- Fi’il Muta’addi dan Fi’il Lazim Definisi dan Tanda-tandanya » Alfiyah Bait 267-268
- Pengertian Istighol » Alfiyah Bait 255
- Pengertian Fa’il » Alfiyah Bait 225
- Pengertian Naibul Fa’il » Alfiyah Bait 242
- Penggunaan Dhamir Antara Muttashil Dan Munfashil » Alfiyah Bait 64 dan 65
- Penggunaan Bentuk Dhamir » Alfiyah Bait 63
- Dhamir Munfashil Manshub » Alfiyah Bait 62
- Dhamir Munfasil Marfu’ » Alfiyah Bait 61
- Isim Dhamir Mustatir wajib dan jaiz » Alfiyah Bait 60
- Bentuk Dhamir Muttashil di dalam mahal i’rabnya » Alfiyah Bait 57-58-59
- Pengertian Dhamir Muttashil, Alfiyah Bait 55-56
- Pengertian Isim Dhamir » Alfiyah Bait 54
- Pengertian Isim Nakirah dan Isim Ma’rifah » Alfiyah Bait 52-53
- Tanda I’rab Kalimah Fi’il Mu’tal » Kitab Alfiyah Bait 49-50-51
- Isim Maqshur dan Isim Manqush: definisi dan tanda I’rabnya » Alfiyah Bait 46-47-48
- I’rab Af’alul Khamsah/kata kerja yang lima » Keterangan Alfiyah Bait 43-44
- Isim tidak munsharif/ghair munawwan, jar dengan fathah syarat tidak mudhaf atau tanpa AL » Alfiyah Bait 43
- Mulhaq Jama’ Muannats Salim أُوْلاَتُ dan أَذْرِعَاتٍ » Penjabaran Alfiyah Bait 42
- Definisi Jama’ Muannats Salim dan I’rabnya » Kajian Alfiyah Bait 41
- Syawahid Syair harakat Nun Jamak Mudzakkar Salim dan Mutsanna » Penjelasan Alfiyah Bait 39-40
- Definisi&I’rab Isim Mulhaq Jama’ Mudzakkar Salim » Pembahasan kitab alfiya bait 36-37-38
- Bentuk jamak & tanda i’rab Jama’ Mudzakkar Salim: isim jamid, isim sifat, wau rafa’, ya’ nashab/jar » Alfiyah Bait 35
- Pengertian Tanda I’rob Isim Mutsanna/Tatsniyah dan Mulhaq-nya » Alfiyah Bait 32-33-34
- 4 Syarat I’rob Asma al-Sittah: Mudhaf, tidak Mudhaf pd Ya’ Mutakallim, Mukabbar dan Mufrad » Alfiah Bait 31
- Aksen Bahasa Arab Untuk Lafazh اب، أخ، حم dan هن menghasilkan I’rob Itmam, Naqsh dan Qashr » Alfiyah Bait 29-30
- Syarat Dzu (ذو) & Famun (فم) yang tergolong pada Asmaus-Sittah » Alfiyah Bait 28
- Tanda I’rab Pengganti: Rafa’ dg Wau, Nashab dg Alif, Jar dg Ya’. Berlaku pada Asmaus-Sittah
- 4 Tanda Asal I’rab: Dhammah, Fathah, Kasrah dan Sukun » Alfiyah Bait 25-26
- Macam-macam I’rab/I’rob dalam Tata Bahasa Arab » Alfiyah Bait 23-24
- Pelajaran Nahwu dari Kitab Alfiyah Bait ke 21-22 » Bentuk Mabni
- Fi’il Mu’rab dan Fi’il Mabni » Alfiyah Bait 19-20
- Definisi Isim Mu’rob – Alfiyah Bait 18
- Faktor Mabninya Kalimat Isim: Wadh’i, Ma’nawi, Niyabah, Iftiqoriy.
- Alfiyah Bait 15. Isim Mu’rob dan Isim Mabni
- Bait 12-13-14. Pembagian Kalimah Huruf dan Kalimah Fi’il serta ciri-cirinya.
- Bait 11. Tanda Kalimat Fi’il: Ta’ Fail, Ta’ Ta’nits Sukun, Ya’ Fail, Nun Taukid.
- Terjemah Indonesia Kitab Matan Alfiyah Ibnu Malik
- Bait 10. Tanda Kalimat Isim: Jar, Tanwin, Nida’, Al, Musnad
- Bait 8-9. Pengertian Kalam, Kalim, Qaul dan Kalimat
- Pembagian Fi’il
- Definisi Sharaf
- Bait 1-7. Muqaddimah Pengarang
Mp3 Bab-Bab selanjutnya,« KLIK » |
|---|
Pengertian Nahwu Shorof
NAHWU adalah kaidah-kaidah Bahasa Arab untuk mengetahui bentuk kata dan keadaan-keadaannya ketika masih satu kata (Mufrod) atau ketika sudah tersusun (Murokkab). Termasuk didalamnya adalah pembahasan SHOROF. Karena Ilmu Shorof bagian dari Ilmu Nahwu, yang ditekankan kepada pembahasan bentuk kata dan keadaannya ketika mufrodnya.
Jadi secara garis besar, pembahasan Nahwu mencakup pembahasan tentang bentuk kata dan keadannya ketika belum tersusun (mufrod) , semisal bentuk Isim Fa’il mengikuti wazan فاعل, Isim Tafdhil mengikuti wazan أفعل, berikut keadaan-keadaannya semisal cara mentatsniyahkan, menjamakkan, mentashghirkan dll. Juga pembahasan keadaan kata ketika sudah tersusun (murokkab) semisal rofa’nya kalimah isim ketika menjadi fa’il, atau memu’annatskan kalimah fi’il jika sebelumnya menunjukkan Mu’annats dll.
Satu kata dalam Bahasa Arab disebut Kalimah (الكَلِمَة) yaitu satu lafadz yang menunjukkan satu arti.
Kalimat atau susunan kata dalam Bahasa Arab disebut Murokkab (المُرَكَّب). Jika kalimat / susunan kata tersebut telah sempurna, atau dalam kaidah nahwunya telah memberi pengertian dengan suatu hukum ” Faidah baiknya diam” maka kalimat sempurna itu disebut Kalam (الكَلاَم) atau disebut Jumlah (الجُمْلَة).
Kalimah-kalimah dalam Bahasa Arab, diringkas menjadi tiga macam:
1. Kalimah Fiil (الفِعْلُ) = Kata kerja
2. Kalimah Isim (الإِسْمُ) = Kata Benda
3. Kalimah Harf (الحَرْفُ) = Kata Tugas.
Khusus untuk Kalimah Fi’il, bisa dimasuki: قد, س, سوف, Amil Nashob ان dan saudara-saudaranya, Amil Jazm, Ta’ Fa’il, Ta’ Ta’nits Sakinah, Nun Taukid, Ya’ Mukhotobah.
Khusus untuk Kalimah Isim, bisa dimasuki: Huruf Jar, AL, Tanwin, Nida’, Mudhof, Musnad.
Khusus untuk Kalimah Harf, terlepas dari suatu yang dikhusukan kepada Kalimah Fiil dan Kalimah Isim.
Menurut wazannya, asal Kalimah terdiri dari tiga huruf, 1. Fa’ fi’il, 2. ‘Ain Fi’il, 3. Lam Fi’il (َفَعَل). Apabila ada tambahan asal, maka ditambah 4. Lam fi’il kedua (َفَعْلَل). Apabila ada tambahan huruf bukan asal. maka ditambah pula pada wazannya dengan huruf tambahan yang sama, semisal ٌمُسْلِم ada tambahan huruf Mim didepannya, maka ikut wazan مُفْعِلٌ.
Pelajaran selanjutnya →
- Fiil Madhi, Fiil Mudhori’, Fiil Amar
- Isim Fiil
- Isim Aswat
- Mujarrod dan Mazid
- Jamid dan Mutashorrif
- Hamzah Washal dan Hamzah Qotho’
- Shahih dan Mu’tal
Maaf kan penulis jikalau banyak terjadi pembahasan yang kurang benar atau masih salah itu karena kurangnya pengetahuan dari penulis .
Terimakasih telah Mengunjungi blog ini semoga bermanfaat.!
Langganan:
Komentar (Atom)
